MALANG — Menghadapi tuntutan kecakapan abad ke-21, pendidik dituntut untuk terus memutakhirkan metode pengajaran di ruang kelas. Sebagai bentuk komitmen nyata dalam merespons tantangan tersebut, SD ‘Aisyiyah 1 Plemahan menerjunkan dua delegasinya dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi MIPA Bilingual yang berlangsung pada 3-6 September 2026 di Hotel Savana, Kota Malang.

Dua utusan SD ‘Aisyiyah 1 Plemahan tersebut, yakni Winda Nur Sa’idah, S.Pd. (Matematika) dan Ahmad Haris Ilhamsyah, S.Pd. (IPA), tergabung bersama 100 guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat se-Jawa Timur.

Kegiatan berskala regional ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Tujuannya mengerucut pada satu hal: mencetak tenaga pendidik yang adaptif terhadap digitalisasi dan fasih mengantarkan materi eksakta dalam bahasa internasional.

Transformasi pendidikan dinilai tidak akan terwujud tanpa kemauan sekolah dan guru untuk mendobrak zona nyaman. Hal ini secara tegas disampaikan oleh Penjamin Mutu Dikdasmen-PNF PP Muhammadiyah sekaligus Co-Pilot Program Bimtek, H. Pahri, S.Ag., M.M., dalam laporan pembukaannya.

“Sekolah Muhammadiyah perlu bergerak, tidak diam di tempat dengan mendukung guru-gurunya terlibat pada kegiatan seperti bimtek ini,” tegas Pahri.

Fondasi di Pendidikan Dasar

Urgensi mencetak guru berkualitas di tingkat dasar mendapat sorotan tajam dari Ketua PP Muhammadiyah, Dr. K.H. Saad Ibrahim, M.A. Dalam pidato kuncinya (keynote speech), ia memberikan refleksi mendalam mengenai posisi strategis seorang guru SD.

“Guru besar itu semestinya bukan di kampus, melainkan di Sekolah Dasar, sebab merekalah yang mengajarkan hal paling berguna, agar manusia bisa menjadi berguna di dunia ini, yakni baca, tulis, dan hitung,” tuturnya di hadapan para peserta.

Saad Ibrahim juga mengingatkan bahwa ekosistem sekolah yang maju sangat bergantung pada visi para pemimpin dan pendidiknya. “Motivasi itu menular. Maka penting untuk kita semua punya motivasi, punya cita-cita. Kepala sekolah punya cita-cita sekolah akan diarahkan ke mana, guru-gurunya akan tertular memiliki cita-cita yang sama,” tambahnya.

Acara pembukaan yang sarat makna ini turut disaksikan oleh pemangku kebijakan lainnya, di antaranya Ketua Majelis Dikdasmen-PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Khozin, M.Si., serta perwakilan Direktorat SMA Kemendikdasmen RI, Nilam Setiawan, M.Psi.

Empat Siklus Pembelajaran

Selama empat hari penggemblengan, para guru tidak hanya menerima teori, tetapi membedah taktik operasional di kelas. Secara spesifik, peserta dilatih merancang empat tahap siklus pembelajaran MIPA Bilingual.

Tahap pertama bertumpu pada Content and Language Integrated Learning (CLIL), yakni metode penentuan konsep inti materi dan kosakata relevan yang difungsikan sebagai kerangka dasar mengajar bilingual. Tahap kedua adalah Read, Connect, Communication (RCC), sebuah pendekatan di mana murid didorong untuk membaca, menghubungkan konteks, dan merespons materi guna mengaktifkan nalar pemahaman mereka.

Selanjutnya, guru dilatih memberikan scaffolding pada tahap ketiga, berupa teknik pendampingan dan dukungan instan yang proporsional saat murid menemui kesulitan. Siklus ini kemudian ditutup dengan tahap refleksi guna memeriksa ketepatan penguasaan konsep materi sains atau matematika sekaligus menakar keberanian murid dalam menggunakan bahasa asing.

Transfer keilmuan ini dikawal ketat oleh barisan fasilitator ahli. Untuk bedah materi Matematika, kelas dipandu oleh praktisi SMA Saintek Ahmad Dahlan Salatiga, Koimatul Chasanah, S.Pd. dan Yan Amal Abdilah, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, kajian keilmuan IPA difasilitasi langsung oleh pakar dari Universitas Negeri Semarang, yakni Dr. Muhammad Abdullah, S.Si., M.Sc. dan Rizki Nor Amalia, M.Pd.

Melalui keikutsertaan delegasinya, SD ‘Aisyiyah 1 Plemahan beserta puluhan sekolah lainnya di Jawa Timur kini bersiap membawa angin segar metodologi pengajaran. Penguasaan pedagogi bilingual berbasis digitalisasi ini diproyeksikan menjadi daya ungkit guna melahirkan generasi penerus yang tak hanya tangguh secara literasi dan numerasi, tetapi juga kompetitif di panggung global.